Minggu, 11 Apr 2021,


tradisi-ruwahan-menjelang-ramadan-dalam-kultur-jawaDewi Ayu Larasati, SS, M. Hum


--
Tradisi Ruwahan Menjelang Ramadan dalam Kultur Jawa

Oleh: Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum
SHARE

AKTIVITAS budaya atau tradisi yang dilakukan masyarakat di setiap daerah, dalam rangka menyambut bulan puasa sangatlah beragam dan berbeda-beda. Tradisi menyambut puasa di Jawa Tengah dikenal dengan nama tradisi Ruwahan. Tradisi ini telah dilakukan selama bertahun-tahun yang menggabungkan antara kepercayaan adat dan ajaran agama Islam. Tradisi ini dijaga kelestariaannya sampai sekarang dan masih dijalankan terutama di daerah pinggiran atau pedesaan.


Tradisi ini memiliki tata cara yang unik di tiap daerah, namun sebagian besar memiliki konsep yang sama, yakni untuk mendoakan para leluhur mereka dan berbagi sedekah dengan orang-orang sekitar.


Ruwahan berasal dari kata Ruwah, nama Jawa untuk bulan kedelapan dalam kalender Islam, Sya’ban, tetapi masih berasal dari bahasa Arab ruh (jamak: arwah), yang berarti jiwa atau roh. Seperti dilihat dari penamaannya, orang Jawa menandai bulan Sya’ban sebagai waktu yang diperuntukkan bagi ritual khusus untuk mengingat kematian, suatu praktik yang berakar dalam budaya Jawa (Poensen, 1886: 13-4).

Tradisi ruwahan juga merupakan sebuah tradisi dari wujud rasa syukur kepada Allah SWT, yang dilaksanakan pada bulan Ruwah, tepatnya di antara tanggal 10-20 hijriyah dalam kalender hijriyah serta ungkapan rasa sukacita memasuki ibadah puasa pada bulan Ramadhan.


Ada beberapa serangkaian acara yang dilakukan dalam acara ruwahan seperti nisfu Sya’ban (Sabanan), bersih desa, slametan, kendurenan, ziarah kubur, hingga berakhir pada acara padusan (junub/mandi keramas) pada akhir bulan Syaban.


Semua rangkaian acara ruwahan ini mengandung makna dan filosofi sebagai berikut.


  1. Ritual Ziarah sebagai Wujud Filosofi Sangkan Paraning Dumadi

Bulan Ruwah atau bulan Arwah mempunyai makna penting sebagai momentum bagi semua yang masih hidup untuk mengingat jasa dan budi baik para leluhur. Tidak hanya terbatas pada orang-orang yang telah menurunkan kita, namun juga termasuk orang-orang terdekat, para pahlawan, para perintis bangsa yang telah mendahului kita, pindah ke dalam dimensi kehidupan yang sesungguhnya. Dengan demikian bagi masyarakat Jawa, bulan Ruwah adalah bulan yang baik untuk berziarah, baik kepada pendahulu, maupun keluarga yang telah meninggal

Ziarah ini juga bisa disebut “nyadran” (sesuai dengan nama lain bulan ini, Sadran), yang berasal dari istilah Jawa Kuna shraddha, yaitu nama upacara Hindu-Buddha untuk orang mati.

Tradisi nyadran sudah ada pada masa Hindu-Budha sebelum agama Islam masuk di Indonesia. Zaman kerajaan Majapahit tahun 1284, ada pelaksanaan seperti tradisi nyadran yaitu tradisi craddha. Kesamaan dari tradisi tersebut pada kegiatan manusia dengan leluhur yang sudah meninggal, seperti sesaji dan ritual persembahan untuk penghormatan terhadap leluhur.

Jika pelaksanaan tradisi nyadran pada masa Hindu-Budha menggunakan puji-pujian dan sesaji sebagai perlengkapan ritualnya, sedangkan Walisanga mengakulturasikan nyadran dengan doa-doa dari Al-Quran.

Masyarakat Jawa kuna meyakini bahwa leluhur yang sudah meninggal sejatinya masih ada dan mempengaruhi kehidupan anak cucu atau keturunannya. Karena pengaruh agama Islam pula, makna nyadran mengalami pergeseran dari sekadar berdoa kepada Tuhan menjadi ritual pelaporan dan wujud penghargaan kepada bulan Sya’ban atau nifsu Sya’ban.

Ziarah pada bulan Ruwah ini sesungguhnya mengandung makna dan filosofi tentang keimanan pada Tuhan, agar dalam hidup ini mereka yang tengah hidup di dunia tetap mengingat tentang asal-usulnya (sangkan paraning dumadi) yang secara biologis adalah dengan cara menghormati leluhur atau nenek moyang yang menurunkan (melahirkan) kita.

Sejatinya, ziarah kubur dalam Islam juga mengingatkan kita pada kematian. Dengan berziarah, kita pun sadar bahwa ada masanya kita kembali kepada Maha Pencipta. Maka seseorang yang berziarah kubur seharusnya muncul dalam kehidupan sehari-hari kita bahwa kematian itu dekat. Dengan mengingat kematian, maka tindak-tanduk kita akan lebih terarah, kehidupan kita semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Kita tidak berani untuk melakukan hal-hal yang dimurkaiNya, bahkan hidup kita akan selalu merasa diawasi oleh Sang Pencipta. Hal ini juga dapat memberi semangat bagi kita yang masih hidup untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirat).

Inilah wujud dari filosofi Jawa sangkan paran dumadi yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “asal dan tujuan dari ada”. Bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini, berasal dan akan kembali pada Pencipta.

Oleh karenanya, melalui filosofi Sangkan Paraning Dumadi manusia akan mengingat tiga hal, yakni asal alam semesta, tujuan manusia, dan penciptaan manusia.

2. Filosofi Sesirih

Memasuki bulan Ramadan, kaum muslim bukan hanya melakukan persiapan fisik untuk menjalani ibadah puasa sebulan penuh, tetapi juga persiapan batin yang meliputi proses penyucian diri untuk meningkatkan amalan dan ibadah pada bulan suci.

Oleh karenanya, bulan Ruwah atau Arwah merupakan saat di mana individu harus “sesirih” atau bersih-bersih diri meliputi bersih lahir dan batin. Membersihkan hati dan pikiran sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad kecil (mikrokosmos), yakni diri pribadi kita meliputi unsur wadag dan alus, raga dan jiwa.

Tidak hanya sebatas pembersihan level mikrokosmos, selebihnya adalah bersih-bersih lingkungan alam di sekitar tempat tinggal, membersihkan desa, kampung, kuburan, sungai, halaman dan pekarangan di sekeliling rumah, tak lupa membersihkan semua yang membuat kotor dan jorok dalam rumah. Bagi petani tak luput pula bersih-bersih sawah dan ladang. Semua itu sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad besar (makrokosmos).

Ritual bersih-bersih ini biasanya diakhiri dengan padusanPadusan merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyucikan diri, membersihkan jiwa dan raga, dalam menyambut datangnya bulan suci. Tradisi yang merupakan warisan leluhur yang dilakukan secara turun temurun ini, dijalani dengan cara berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air. Tujuan dari padusan ini adalah agar saat Ramadan datang, kita dapat menjalani ibadah dalam kondisi suci lahir maupun batin.

Selain itu, bila ditelisik lebih jauh, padusan memiliki makna yang sangat dalam, yaitu sebagai media untuk merenung dan instropeksi diri dari berbagai kesalahan yang telah dibuat pada masa lalu. Oleh karena itu, semestinya ritual ini dilakukan seorang diri di tempat yang sepi.

Akan tetapi, akhir-akhir ini telah terjadi pergeseran nilai terhadap ritual yang merupakan tradisi leluhur ini. Padusan yang semestinya dilakukan seorang diri, kini telah berubah menjadi mandi, keramas atau berendam beramai-ramai di satu mata air, sehari sebelum menjalani ibadah puasa Ramadan.

3. Filosofi Kenduren Ruwahan sebagai Ajang Silaturahmi

Ruwahan dianggap sebagai bentuk kegiatan yang kerap dijadikan ajang untuk bersilaturahmi antarwarga atau masyarakat sebelum bulan puasa tiba. Bahkan, warga yang merantau di luar kota sengaja pulang kampung agar tak melewatkan momentum bertemu keluarga dan para tetangga.

Kenduren atau sering juga disebut kenduri ini juga dihadirkan dengan kebersamaan dan gotong royong, mulai dari persiapannya hingga kegiatan tersebut berakhir. Masyarakat bersama-sama menyiapkan makanan dan membersihkaannya kembali.

Biasanya, warga akan memasak dan membuat makanan–makanan khusus untuk kenduri di setiap balai padukuhan dan saling dibagikan. Masing-masing warga biasanya membuat makanan seperti nasi berkat, ketan, apem, tumpeng, dan lain sebagainya yang kemudian dibawa ke rumah kepala dusun untuk sama-sama mengadakan doa dan makan bersama (kenduri). Ada juga yang langsung dibawa ke makam dan mengadakan doa bersama di makam. Kenduri ruwahan juga banyak dilakukan di masjid atau lebih tepatnya di serambi masjid, hingga halaman depan masjid jika pengunjungnya banyak.

  1. Filosofi Megengan atau Punggahan

Megengan sebenarnya diambil dari bahasa Jawa, Megeng yang artinya menahan (puasa). Sedangkan punggahan berasal dari kata unggah yang artinya naik.
Makna dari istilah keduanya sama, yakni suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki (naik) bulan suci Ramadan, di mana umat Islam diwajibkan berpuasa, yaitu menahan (megeng) untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa.

Tradisi megengan yang jatuh pada bulan Ruwah (kalender Jawa), biasanya berlangsung satu minggu sebelum puasa.

Pada tradisi megengan, banyak masyarakat saling memberi dan menerima hantaran. Biasanya, isi hantaran tradisi Megengan di Jawa tidak meninggalkan tiga sajian makanan, yakni, ketan, kolak dan apem.

Makna dari ketiga makanan tersebut adalah sebagai berikut. Ketan merupakan lafal orang Jawa dalam menyebut Khotan. Dalam bahasa Arab, dalam kata tersebut bermakna kesalahan. Adanya ketan dalam upacara ini mengisyaratkan bahwa para keluarga yang datang untuk nyadran melakukan permohonan maaf atas kesalahan para leluhurnya. Dan ketan yang lengket merupakan simbol yang menguatkan tali silaturahmi.

Kolak berasal dari khologo dan dari kata tersebut terbentuk kata kholiq atau khaliq. Dengan demikian, kolak itu sendiri bermakna bahwa para pelaku nyadran didekatkan pada Sang Khaliq. Harapan yang sama juga dimohonkan untuk para leluhur mereka. Kolak yang manis dan bersantan, maksudnya mengajak persaudaraan bisa lebih dewasa dan barokah kemanisan.

Sedangkan apem berasal dari bahasa Arab Affum atau Alwan, yang berarti permintaan maaf baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga yang meninggal. Serta kebulatan tekad untuk memohon perlindungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Implementasi megengan merujuk pada hikmah “penyiapan mental sebelum menempuh puasa di bulan Ramadan”, di mana ketika itu kita diajarkan untuk saling bersadaqah. Tradisi ini mengajarkan masyarakatnya untuk selalu berbagi dengan apa yang dimilikinya, mempererat tali silaturrahim, serta memberikan pelajaran indahnya kebersamaan dan kerukunan hidup.

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui rangkaian tradisi ritus Ruwahan menjelang Ramadan yang sarat filosofi. Di tengah perkembangan zaman dan teknologi era milenial sekarang ini, kita berharap tradisi ruwahan perlu dijaga dan jangan sampai terkikis, karena tradisi ruwahan merupakan tradisi yang mulia. **

Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum

Staf Pengajar di Universitas Sumatra Utara

 



SHARE

'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini