pandemi-memaksa-umkm-berinovasiDeputi Pimpinan Wilayah Bank Indonesia Yogyakarta, Wiyono bersama Asek III Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana memecahkan kendi di depan truk membawa barang ekspor milik Palem Craft. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Ms

Pandemi Memaksa UMKM Berinovasi


SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Pandemi Covid-19 tidak melulu membuat kreativitas menurun, terbukti salah satu produsen home decor, Palem Craft yang menjadi mitra binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (BI DIY) sejak 2017 telah berhasil mengirimkan ekspor produk home decor mereka yang kedua kalinya di tengah pandemi pada Kamis (3/9/2020).

Tepatnya sejak event Grebeg UMKM DIY pertama di 2017. Palem Craft selalu memperhatikan performanya dalam menjaga kualitas produk, kapasitas produksi dan kontinyuitas.


Baca Lainnya :

Pandemi yang membuat industri berhenti musabab regulasi antar negara yang belum jelas, pembeli pun banyak yang mengurungkan niat atas banyak kerjasama antar negara.

Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh Palem craft untuk membuat inovasi produk-produk baru yang selanjutnya ditawarkan melalui platform digital kepada beberapa negara yang pernah menjadi di sasaran ekspor produk Palem Craft. Beruntungnya, ternyata inovasi produk baru tersebut digemari, sehingga saat ini kami mengirim produk desain baru sekaligus produk sebelumnya yang pernah dibeli pasar Eropa.


Baca Lainnya :

Deddy Effendy, pemilik Palem Craft mengungkapkan, Grebeg UMKM salah satu event yang berhasil menciptakan beberapa peluang bagi kami, hari ini kami mengekspor sebanyak 20 ribu kerajinan yang bahan bahan bakunya asli Indonesia. Adapun produk yang menjadi favorite adalah lampu, mirror dan wall deco.

"Sebagian kami ambil dari Kalimantan, Sulawesi, pulau Jawa terutama Jogja dan Sulawesi," paparnya saat usai melepas kontainer ekspor produk-produknya, Kamis (3/9/2020).

Deddy mengakui dengan mengikuti GREBEG UMKM yang diinisiasi BI DIY, Pihaknya mendapatkan banyak keuntungan. Berbagai pendampingan dan fasilitasi membuka akses pasar Palem Craft. Pada 2019 hingga Palem Craft mendapat order pertama dari Bazar Bizar dan sampai dengan awal September 2020.

Belgia dan Perancis menjadi pilihan Lanjut Deddy, karena produk kami berbasis alam, di negara-negara ini sangat tertarik dengan produk yang ramah lingkungan terutama yang berasal dari Indonesia.

Mengambil filosofi pohon palem yang tiap bagiannya bermanfaat, UMKM asli Yogyakarta ini berfokus mencipta dekorasi rumah berbahan alami. Mengolah 100% bahan lokal, Palem Craft berhasil melakukan pemberdayaan dan mensejahterakan masyarakat sekitar.

Serat batang pisang, rumput rayung, bambu, ranting kayu, biji mahoni hingga kulit kerang, yang sebenarnya adalah limbah, mampu diolah produk kriya berkualitas. Desainnya yang berkualitas dan eksklusif, sertifikasi legalitas bahan dan komitmennya menjaga lingkunan membuat Palem Craft tampil percaya diri di pasar luar negeri.

"Covid-19 sempat membuat kami berhenti ekspor, tapi  semangat terus melakukan inovasi. Ini menjadi tantangan untuk tetap bertahan dan mencari peluang pasar yang sebenarnya. Pandemi membuat kami lebih memahami tren pasar di negara tersebut," lanjutnya.

"Sejak awal pandemi, Kami tidak ingin merumahkan para perajin, Orang yang punya keahlian [perajin] itu susah dicari. Agar selalu ada pekerjaan, kami membuat inovasi-inovasi baru, sekarang terlihat hasilnya," terangnya.

Deddy mengakui beberapa kendala bagi perajin di Indonesia. Bagi perajin home decor yang juga merupakan produsen lampu berbahan lokal. Masalah barang elektrikal yang dimiliki oleh negara kita tidak sesuai yang diinginkan oleh pasar Eropa.

"Hal ini menyebabkan kami harus melakukan impor untuk perlengkapan barang-barang elektrikal dari Cina," terangnya.

Sementara Deputi Pimpinan Wilayah Bank Indonesia Yogyakarta, Wiyono mengungkapkan meskipun hantaman ekonomi dunia akibat pandemi terjadi, namun ada beberapa pelaku UMKM di DIY yang masih bisa ekspor adalah sesuatu yang luar biasa.

"BI sangat mendukung kegiatan UMKM berbasis ekspor karena sumber devisa negara itu dari ekspor dan hutang," lanjutnya.

"Mengingat ekspor sangat penting, pemerintah bahkan dulu pernah memberikan kredit khusus ekspor. Ekspor ini menjadi berita gembira karena saat ini curent point selalu defisit dan harus ditutup dari modal luar negeri dan hal tersebut saat ini sangat sulit dilakukan," tutupnya.(*)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini