Minggu, 24 Jan 2021,


desa-nglinggi-sembilan-bulan-lolos-dari-ancaman-pandemiFasilitas cuci tangan yang representatif di halaman Kantor Balai desa Nglinggi di Klaten. (warjono/koranbernas.id)


Warjono

Desa Nglinggi, Sembilan Bulan Lolos dari Ancaman Pandemi


SHARE

KORANBERNAS.ID, KLATEN — Nyaris tidak ada yang istimewa ketika melintas di Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten. Layaknya desa di pinggiran ibukota kabupaten, wilayah ini cukup padat dengan penduduk dan ramai dengan hiruk pikuk warga serta lalu lalangnya kendaraan di jalan raya. Terlebih, Nglinggi berada di jalur perlintasan alternatif Yogyakarta menuju Kabupaten Boyolali. Jalur yang cukup strategis bagi mereka yang ingin menuju Salatiga dan Semarang melalui jalur Boyolali.

Di pinggir jalur utama menuju Boyolali, banyak pertokoan berdiri berjejer. Cukup ramai. Juga warung-warung makan, pasar, hingga area pemancingan umum. Di pinggir jalan, boleh dibilang banyak juga penjaja makanan dan minuman kaki lima maupun bergerobak.


Pun ketika masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Suasana ramai tetap terasa. Bedanya, saat ini warga yang berseliweran di jalanan maupun di tempat umum, rata-rata mengenakan masker, menutup di bagian mulut dan hidungnya.

“Ya syukur mas. Warga kami cukup patuh dengan protokol kesehatan. Imbauan kami agar mereka selalu mengenakan masker saat ke luar rumah, sejauh ini dipatuhi,” kata Sugeng Mulyadi, Kepala Desa Nglinggi, ditemui di kantornya pekan ketiga November 2020.


Upaya pemerintah desa dan aparatur di bawahnya untuk membangun budaya bersih dan sehat dengan menerapkan protokol kesehatan, ternyata bukan perjuangan yang singkat dan mudah.

Barangkali bisa disebut kebetulan, tapi bukan tanpa perencanaan. Sejak tahun 2017, Sugeng Mulyadi sebagai orang yang dituakan di Nglinggi, sudah membangun jaringan internet hingga ke tingkat Rukun Warga (RW). Awalnya, fasilitas ini lebih sebagai sarana bagi seluruh warga untuk mengakses informasi apa pun yang sekiranya bermanfaat untuk mereka. Mulai dari pertanian, perdagangan hingga kepentingan belajar warga. WiFi yang dibangun juga dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi hingga ke pelosok desa melalui jaringan WhatsApp grup.

Grup WA dibuat bertingkat. Kepala desa dan perangkat desa, tergabung dalam grup WA bersama seluruh Kadus dan RW. Sementara di tingkat lebih bawah, juga membuat grup tersendiri hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RT).

“Ya namanya daerah di pinggiran kota. Dinamika sosial kemasyarakatannya mulai meningkat. Masyarakatnya mulai heterogen. Latar belakang pendidikan dan juga pekerjaan sangat beragam. Memerlukan sarana komunikasi yang lebih cepat dan masif yang bisa dilakukan setiap saat. Dan ternyata memang efektif,” kata Kades yang sampai kini masih berstatus PNS ini.

Jalur komunikasi yang sudah terbangun lebih dari 2 tahun inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan Nglinggi selamat dari ancaman pandemi Covid-19. Nglinggi saat ini menjadi salah satu dari sedikit desa yang selamat dengan status nol kasus, alias tidak satu pun warganya yang terpapar virus Corona sejak Maret 2020 lalu.

Sejak awal kasus merebak, Sugeng Mulyadi dan jajarannya mengefektifkan jalur komunikasi ini sebagai sarana untuk menyampaikan segala informasi yang dipandang perlu dan penting untuk disampaikan. Sugeng setiap hari meneruskan informasi dari kabupaten terkait perkembangan kasus Covid-19, berikut hal-hal yang harus dilakukan seluruh warga guna mencegah penyebaran dan penularan virus ini. Informasi itu kemudian diteruskan oleh tim Satgas gugus tingkat RW kepada seluruh warga. Sehingga informasi yang disampaikan seragam, pemahaman yang menerima informasi juga sama, dan penanganannya juga sama.

“Tentu, sebelumnya kami juga membentuk satuan tugas penanganan Covid-19, mulai dari tingkat desa hingga tingkat RW. Semua personel sudah dibekali pemahaman mengenai wabah ini. Ini memudahkan kami ketika perlu berkoordinasi. Semua sudah memiliki sudut pandang dan semangat yang sama. Semangat untuk sama-sama mencintai warga,” lanjutnya.

Turun Lapangan

Manusia tempatnya lupa. Sugeng Mulyadi dan perangkatnya sangat menyadari hal ini. Maka, kendati masyarakat di Nglinggi relatif sudah lebih patuh dan tertib menjalankan protokol kesehatan, dirinya tetap saja sekali waktu turun ke lapangan.

Bersama Babinsa dan Babinkamtibmas, Sugeng dan perangkat desa yang lain rutin mengadakan patroli untuk memastikan semua warga ingat dan patuh dengan arahan dari pemerintah. Kalau masih ditemui warga yang lalai, maka dirinya langsung mengingatkan yang bersangkutan. Biasanya, belum juga diingatkan, asalkan sudah melihat kedatangannya, orang yang semula lalai mengenakan masker, akan langsung memakainya.

“Yang agak susah memang terkait kerumunan. Terutama kerumunan di tempat-tempat pemancingan dan wisata. Seperti di pemancingan misalnya, kadang pengunjung mencapai ratusan. Yang seperti ini, saya biasanya mendekati pihak pengelola. Saya ingatkan soal pentingnya menghindari kerumunan dan protokol kesehatan lainnya. Biasanya mereka langsung paham dan patuh. Jadi ancaman saya hendak menutup usaha mereka, sejauh ini tidak perlu saya buktikan,” selorohnya.

Bukan hanya tempat wisata dan pemancingan, Sugeng bersama tim juga rutin beranjangsana ke tempat-tempat ibadah. Mereka tak lelah memonitor sekaligus mengingatkan semua pihak tentang pentingnya bekerja sama mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Bagi Sugeng, langkah antisipasi dan penanganan harus dilakukan dengan kesamaan langkah dan sikap. Masyarakat, pengurus RT dan RW, Kadus hingga Kepala Desa dan perangkatnya harus bahu membahu.

“Begitu besarnya tekad kami untuk mencegah Covid-19. Dulu, secara sukarela warga kami mengingatkan keluarga mereka yang di luar kota agar tidak pulang dulu selama pandemi. Warga kami pun mengurangi bepergian atau ke luar rumah. Tapi kalau sekarang, warga justru saya dorong untuk ke luar rumah. Supaya produktif. Kalau terlalu lama di rumah kan selain bosan, mereka juga tidak produktif. Tapi ya itu, tetap saya ingatkan protokol kesehatan yang nomor satu. Keluarga yang di luar kota pun sudah boleh mudik, tapi juga harus menghormati komitmen warga Nglinggi menjaga protokol kesehatan,” lanjut Sugeng yang memiliki warga sebanyak 2.498 jiwa. Dari jumlah itu, sebagian di antaranya lansia dengan penyakit menahun.

Berbuah Penghargaan

Hasil kerja keras Sugeng Mulyadi beserta perangkatnya dan seluruh warga Nglinggi kini membawa hasil manis. Bukan saja seluruh warganya sejauh ini selamat dari ancaman virus Corona, gerakan mereka juga berbuah penghargaan dan menjadi contoh bagi desa-desa lain.

Keaktifan Desa Nglinggi dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 mendapat ganjaran penghargaan dengan menjadi Juara II Lomba Kampung Siaga Candi 2020 tingkat Polda Jawa Tengah (Jateng).

Penghargaan dari Polda Jateng untuk Sugeng Mulyadi S.Sos diberikan oleh Kapolres Klaten, AKBP Edy Suranta Sitepu SIK MH, dalam upacara yang berlangsung di halaman Mapolres Klaten, Minggu (22/11/2020). Penghargaan ini lantaran Sugeng dinilai berprestasi membina wilayah, sehingga Desa Nglinggi berhasil menjadi Juara II Tingkat Polda Jateng dan Juara I Tingkat Polres Klaten dalam Lomba Kampung Siaga Candi 2020.

“Yang hebat itu sebenarnya perangkat-perangkat saya, ketua-ketua dan pengurus RW serta RT dan juga masyarakat sendiri. Mereka mudah diajak komunikasi dan berkoordinasi, terbuka dengan saran dan masukan, serius dan patuh dengan aturan. Saya sendiri tak menyangka. Karena apa yang kami lakukan selama ini fokus utamanya agar masyarakat desa tetap sehat dan terhindar dari terpapar Covid-19,” katanya merendah.

Dikutip koranbernas.id, Minggu (22/11/2020), Kapolres Klaten, AKBP Edy Suranta Sitepu SIK MH, dalam sambutannya mengatakan, kegiatan upacara dilaksanakan sebagai wujud apresiasi kepada personel yang berdedikasi dalam mengemban tugas dan tanggung jawab serta berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Selain itu untuk memacu personel lain agar meningkatkan kinerjanya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini