cuci-tangan-terus-kapan-makannyaFasilitas umum tempat cuci tangan di halaman Pasar Argosari Wonosari seakan-akan hanya pajangan semata. (sutaryono/koranbernas.id)


St Aryono

Cuci Tangan Terus Kapan Makannya...


SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL – Cuci tangan sebenarnya bukan hal baru. Bahkan diajarkan sejak balita di lingkungan rumah tangga ataupun sekolah. Hanya saja, cuci tangan dilakukan ketika akan makan.

Saat pandemi kasus Covid-19 yang mengharuskan selalu cuci tangan pakai sabun, meskipun tidak akan makan, justru menjadi masalah baru. Ada guyonan yang selama ini cukup familiar di masyarakat. Wisuh tangan terus. Gek kapan mangane (cuci tangan terus. Lalu kapan makannya).


Baca Lainnya :

Guyonan ini hampir selalu terdengar. Hanya saja tidak semua orang memaknai sebagai bagian dari protes masyarakat terhadap kebiasaan baru itu.

Tidak mengherankan, protes tersebut menjadikan kebiasaan baru cuci tangan menjadi sesuatu yang berat dilaksanakan. Meskipun pada era mewabahkan virus Corona, semua menyadari pentingnya protokol kesehatan. Namun ketika setiap saat warga dituntut selalu cuci tangan, seakan-akan menjadi kebosanan, dalam tanda kutip.


Baca Lainnya :

“Dari rumah saya sudah mandi bersih. Tetapi baru beberapa langkah ke warung, sebelum masuk diminta cuci tangan. Ketika pindah toko lain, cuci tangan masih harus dilakukan lagi. Masak belum ada 20 menit sudah cuci tangan tiga kali. Bosan,” kata Ny Lestari, warga Wonosari ketika ditemui di depan sebuah toko Jalan Brigjen Katamso Wonosari, Minggu (26/7/2020).

Hal yang sama dikatakan Ny Wastini warga Kalurahan Ngawu Kapanewon Playen, ketika dipergoki koranbernas.id tidak melakukan cuci tangan ketika akan masuk belanja di Pasar Playen. Meskipun pihak pengelola pasar sudah menyediakan tempat cuci tangan, namun fasilitas ini seakan hanya hiasan semata. “Wah tergesa-gesa ini. Tadi sudah mandi kok dari rumah. Pasti bersih,” kilahnya.

Untuk melihat secara nyata tingkat kesadaran masyarakat melakukan cuci tangan, sebelum dan sesudah belanja di pasar, koranbernas.id sengaja menunggu sekitar sepuluh menit di dekat fasilitas cuci tangan di Pasar Playen.


Fasilitas tempat cuci tangan umum di Pasar Playen Gunungkidul. (sutaryono/koranbernas.id)

Hanya pajangan

Dan nyatanya, selama waktu itu pula, tidak ada satu pun pengunjung pasar yang menggunakan fasilitas cuci tangan. Padahal terlihat puluhan warga keluar-masuk pasar. Tidak berlebihan jika dikatakan fasilitas cuci tangan seakan hanya pajangan semata. Tidak pernah dihiraukan.

“Waktu pertama kali dipasang, beberapa  bulan lalu, banyak yang menggunakan. Karena ada petugas yang sering mengingatkan. Tetapi sekarang hanya sebagian kecil yang memanfaatkan. Semuanya tergantung kesadaran masing-masing warga,” kata salah seorang petugas parkir Pasar Playen yang menempati areal sekitar penempatan fasilitas cuci tangan itu.

Kondisi riil masyarakat ini juga diakui Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, dr Dewi Irawati. Menurutnya, masyarakat Gunungkidul masih terlalu longgar dalam menerapkan protokol kesehatan, utamanya cuci tangan. “Ini yang menjadi tantangan kita. Kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan lagi,” katanya ketika dihubungi koranbernas.id, beberapa hari lalu.

Dokter Dewi menyatakan pemanfaatan fasilitas cuci tangan menjadi tanggung jawab masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD). “Fasilitas cuci tangan yang ditempatkan di pasar, maka tanggung jawab Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Kalau di daerah wisata, pada Dinas Pariwisata,” tambahnya.

Hanya saja diakui, itu tanggung jawab ini lebih pada perawatan atau pengadaan fasilitas. “Kalau sudah pada pemanfaatan, tentu saja ini tanggung jawab kita semua. Utamanya warga itu sendiri,” tuturnya.

Menurut dokter Dewi, cuci tangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Melalui PHBS tercipta rekayasa sosial yang bertujuan menjadikan anggota masyarakat sebagai agen perubahan agar mampu meningkatkan kualitas perilaku sehari-hari dengan tujuan hidup bersih dan sehat.

Dijelaskan, tatanan PHBS melibatkan beberapa elemen yang merupakan bagian dari tempat beraktivitas dalam kehidupan sehari- hari. Setidaknya terdapat lima tatanan PBHS yang dapat menjadi simpul untuk memulai proses penyadartahuan tentang perilaku hidup bersih sehat, meliputi lingkungan rumah tangga, sekolah, tempat kerja, sarana kesehatan dan PHBS tempat umum.

“Untuk lingkungan rumah tangga, Gunungkidul sebenarnya sudah bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Ini menjadi poin tersendiri terhadap PHBS. Namun dengan adanya Covid-19 ini, perilaku pakai masker dan cuci tangan menjadi tantangan tersendiri, karena menjadi hal yang baru, sehingga perlu terus sosialisasi dan himbauan pada warga,” ucapnya.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi ketika dihubungi mengaku perlu sikap tegas dari Pemkab Gunungkidul untuk menegakkan protokol kesehatan di masyarakat. “Kami sedang  menggodok pemberian sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 ini,” katanya.

Penjatuhan sanksi dinilai sebagai cara efektif untuk mendisiplinkan masyarakat agar patuh menaati protokol kesehatan secara umum.  Hanya saja pada tahap awal ini masih  kewajiban memakai masker. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini