atas1

Warga Desa Ini Tak Lagi Hidup dari Hutan

Jumat, 12 Jul 2019 | 04:27:06 WIB, Dilihat 273 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Warga Desa Ini Tak Lagi Hidup dari Hutan Peserta farm tour mengikuti acara peluncuran Program Global Qurban 2019 di Blora Jawa Tengah. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Kantong Belanja dari Serat Ketela Ini Mudah Didaur Ulang


KORANBERNAS.ID – Dulu, Desa Gadu maupun desa-desa di sekitarnya di Kecamatan Sambong Blora Jawa Tengah terkenal kurang sejahtera. Hampir semua warga di desa tersebut hidup dari mengandalkan hasil hutan.

Saat ini kondisi tersebut berubah drastis. Berkat wakaf, warga desa tersebut kini hidupnya sejahtera.

Inilah pengakuan Eni Rachmawati. Mewakili Camat Sambong Agus Puji Mulyono saat menghadiri peluncuran Program Global Qurban 2019, Kamis (12/7/2019), di Lumbung Ternak Wakaf (LTW) Desa Gadu Kecamatan Sambong.

Dia mengakui masyarakat di kecamatan itu rata-rata hidup dari hutan. “Mudah-mudahan warga bisa alih profesi tidak lagi bergantung dari hasil hutan tetapi menjadi peternak,” ucap Eni.

Dengan kalimat seperti terbata-bata karena merasa terharu, Eni menyampaikan apresiasi kepada lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap) yang sejak beberapa tahun terakhir ini aktif memberikan bantuan untuk masyarakat setempat.

Dengan makin majunya perekonomian di wilayah itu, Eni mengajak warganya untuk menunjukkan jati dirinya. “Program dari ACT ini mengangkat nama Kecamatan Sambong,” ujarnya.

Kabupaten Blora yang memiliki 16 kecamatan semula kurang terkenal karena pamornya kalah dengan Cepu. Padahal Cepu merupakan wilayah Blora, letaknya  paling timur berbatasan dengan Bojonegoro Jawa Timur.

Dengan makin intensifnya program-program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan ACT, dia optimistis sudah semestinya Sambong terangkat namanya.

“Sumur minyak pertama kali ditemukan Desa Ledok Kecamatan Sambong. Inilah awal dari Blok Cepu. Kita harapkan ACT bekerja sama dengan Bumdes untuk mengangkat nama Kecamatan Sambong,” tambahnya.

Menanggapi itu, President Global Wakaf, Imam Akbari, menyampaikan keberadaan Lumbung Ternak Wakaf (LTW) di kecamatan itu terbukti mampu menyejahterakan masyarakat.

“Blora merupakan wilayah yang pertama kali kami jadikan sebagai Kawasan Wakaf Terpadu (KWT). Program ini strategis, produktif dan manfaatnya langsung terlihat. Ada peternak yang nggak pernah mimpi, bisa umrah. Ini karena wakaf,” ungkapnya.

Kenapa Blora yang dipilih? Menurut dia, itu semua karena Allah SWT yang menuntun. Ditambah lagi, terdapat sepuluh kepala desa (kades) yang memiliki background relawan.

Lurah Ngadi menyambut peserta farm tour. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Tidak heran, Kabupaten Blora semula tercatat masuk sepuluh besar daerah miskin saat ini sudah turun peringkat. Artinya, level kemiskinannya turun dan sebaliknya kesejahteraan masyarakat meningkat.

Selain itu, Blora juga memiliki potensi swasembada pangan. Warganya juga bersemangat. Faktor penting lainnya adalah hadirnya pemimpin-pemimpin informal yang mampu menggerakkan masyarakat untuk maju, salah seorang di antaranya adalah Lurah Ngadi.

Warga Desa Jipang mengakui lurah yang satu ini dikenal punya semangat kuat memajukan desanya.

Begitu pula saat menyambut peserta farm tour ACT, dia terlihat bersemangat. Tak hanya itu semua peserta dijamu makan di rumahnya dengan suguhan istimewa. (sol)



Jumat, 12 Jul 2019, 04:27:06 WIB Oleh : Arie Giyarto 243 View
Kantong Belanja dari Serat Ketela Ini Mudah Didaur Ulang
Jumat, 12 Jul 2019, 04:27:06 WIB Oleh : Sholihul Hadi 304 View
ACT Luncurkan Program Global Qurban 2019
Rabu, 10 Jul 2019, 04:27:06 WIB Oleh : Arie Giyarto 343 View
Rute Gerilya Jenderal Soedirman Sejauh 1.009 Kilometer

Tuliskan Komentar