atas

Wajibkan Siswa Berjilbab, ORI Periksa SMPN 8

Jumat, 08 Feb 2019 | 00:25:19 WIB, Dilihat 6587 Kali - Oleh W Asmani

SHARE


Wajibkan Siswa Berjilbab, ORI Periksa SMPN 8 Hasyim, Kepala Seksi Kurikulum SMP, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta di kantor setempat, Kamis (7/2/2019). (w asmani/koranbernas.id)

Baca Juga : Widyaiswara Profesi yang Menarik


KORANBERNAS.ID -- SMPN 8 Yogyakarta dinyatakan melakukan pelanggaran dalam aturan tata tertib sekolah. Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY menemukan Tata tertib (tatib) yang dikeluarkan sekolah bertentangan dengan Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 57 tahun 2011 tentang pedoman rata tertib sekolah.

Dalam tata tertib peserta didik SMP N 8 Yogya tahun 2017, terdapat norma yang tersembunyi menjadikan pemakaian jilbab jadi wajib. Karenya ORI Perwakilan DIY meminta segera sekolah tersebut melakukan revisi.

Sebab dalam peraturan Wali Kota tersebut, penggunaan pakaian khas termasuk di dalamnya pakaian khas muslimah itu adalah sifatnya dapat, yang berarti tidak wajib. Sehingga ada opsional yang merasa meyakini ya memakai, yang tidak ya boleh tidak memakai.

"Kami minta kepala sekolah merevisi tata tertibnya agar disesuaikan dengan ketentuan di peraturan Wali Kota," ungkap Kepala ORI DIY, Budhi Masthuri, Kamis (7/2/2019).

Revisi itu didasarkan pada pemeriksaan dan menyusun Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP), terkait dengan tindak lanjut dengan laporan masyarakat berkenaan dengan dugaan pewajiban pemakaian jilbab di SMP N 8 Kota Yogyakarta. LAHP tersebut diserahkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, yang diwakili oleh Hasyim, Kepala Seksi Kurikulum SMP, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta di kantor setempat, (7/2/2019).

Berdasarkan laporan tersebut, Kepala SMP N 8 Yogyakarta selaku terlapor I kurang cermat dalam menyusun tata tertib sekolah melewatkan ketentuan sebagaimana diatur dalam pasal 16 ayat (1) Peraturan Walikota No. 57 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Tata Tertib Sekolah yang berakibat munculnya norma wajib yang tersembunyi dalam pemakaian busana khas muslimah bagi sisiwi SMP N 8 Yogyakarta.

Guru Pendidikan Agama Islam SMP N 8 Yogyakarta terkait selaku terlapor II juga dinilai melakukan tindakan tidak patut. Sebab secara tersirat mewajibkan siswi menggunakan busana khas muslimah selama mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam di kelasnya.
Meskipun demikian tidak cukup bukti bahwa telah terjadi pengaitan nilai mata pelajaran agama Islam dengan pilihan sikap siswa menggunakan atau tidak menggunakan busana khas muslimah.

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta sebagai pihak terkait tidak cukup cermat dalam memberikan persetujuan atas rancangan tata tertib SMP N 8 Yogyakarta yang tidak sesuai dengan Pasal 16 Ayat (1) Peraturan Walikota Yogyakarta No. 57 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan tata tertib sekolah, dan tidak cukup melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Dengan demikian kasus ini terjadi di SMP N 8 Yogyakarta dan patut juga di duga terjadi di beberapa sekolah lainnya.

Karena itu ORI DIY menyarankan kepada Kepala SMP N 8 Yogyakarta secepatnya melakukan revisi tata tertib dengan menegaskan bahwa penggunaan pakaian khas muslimah adalah pilihan sebagaimana diatur dalam pasal 16 ayat (1) Peraturan Walikota Yogyakarta nomer 57 tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Tata Tertib Sekolah.

"Kami juga meminta kepala sekolah memberi pembinaan terhadap guru-guru agama mengenai begaimana seharusnya menyampaikan ajaran norma berjilbab," tandasnya.

Sementara Hasyim kepada koranbernas.id menuturkan telah menerima LAHP yang disampaikan ORI DIY. Menurutnya isi LAHP tersebut berupa saran, yang tentunya selama 30 hari kedepam harus dipatuhi.

"Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta berhalangan, sehingga saya yang mewakili menerima LAHP ORI DIY," jelasnya.(yve)



Kamis, 07 Feb 2019, 00:25:19 WIB Oleh : Sholihul Hadi 463 View
Widyaiswara Profesi yang Menarik
Kamis, 07 Feb 2019, 00:25:19 WIB Oleh : Sholihul Hadi 550 View
Bulus Raksasa Sempat Dijual
Kamis, 07 Feb 2019, 00:25:19 WIB Oleh : Nanang WH 397 View
Polisi Ini Tiap Hari Bagi-bagi Rejeki

Tuliskan Komentar