atas

Saat Naskah Kuno Keraton Jogja Dipentaskan

Senin, 08 Apr 2019 | 00:07:22 WIB, Dilihat 555 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Saat Naskah Kuno Keraton Jogja Dipentaskan Fragmen Golek Menak, Lakon Bedhah Ngambarkustub yang diadaptasi dari sumber manuskrip salah satu naskah dari 75 naskah yang kembali dari Inggris yang dipentaskan di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Sabtu (6/4/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Ingin Sepatu Awet? Rawat Dengan Cara Ini


KORANBERNAS.ID -- Tahun ini Keraton Yogyakarta mendapat 75 naskah digital dari British Library, Inggris. Lobi dan proses yang membutuhkan waktu kurang lebih lima tahun ini diharapkan bisa diterapkan kembali, baik oleh Keraton Yogyakarta maupun oleh daerah lain di Indonesia.

Kembalinya naskah digital disambut dengan gelaran pameran naskah bertema “Merangkai Jejak Peradaban Negari Ngayogyakarta Hadiningrat” yang telah terlaksana sejak 7 Maret hingga 7 April 2019. Selama sebulan penyelenggaraan pameran, lebih dari 10.000 pengunjung hadir untuk menikmati setiap detil cerita dan gambar yang terdapat pada naskah.

Data lunak (soft file) naskah tersebut nantinya akan diunggah pada website kratonjogja.id/kapustakan sehingga dapat dapat dinikmati sebagai akses ilmu pengetahun oleh masyarakat akademis.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Pameran yang juga memperingati 30 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bertahta berdasarkan tahun masehi. Ini merupakan kali pertama masyarakat dapat menyaksikan warisan kekayaan intelektual Keraton Yogyakarta dalam ruang pamer.

Demi melengkapi jalan cerita pameran, 3 institusi diluar Keraton meminjamkan koleksi naskahnya, yaitu Kadipaten Pura Pakualaman, Museum Sonobudoyo, dan Balai Bahasa Yogyakarta.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Sabtu (6/4/2019), pameran naskah ditutup dengan pegelaran wayang wong Golek Menak. Lakon Bedhah Ngambarkustub dipilih sebagai cerita yang dipentaskan. Lakon ini merupakan hasil pembacaan salah satu naskah dari 75 naskah yang kembali dari Inggris.

Penutupan pameran juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Keraton Yogyakarta dengan Universitas Gadjah Mada, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Institut Seni Indonesia Surakarta.

Bidang kerjasama yang akan dilakukan oleh keraton dengan institusi pendidikan tersebut di antaranya bidang kajian seni budaya, manuskrip, kearsipan, kepustakaan, dan permuseuman.

Pengembangan dalam bentuk sastra rupa, sastra tari, sastra teater atau dalam bentuk sastra film ini belum lama dijadikan materi disertasi oleh ISI surakarta.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

"Dengan begitu manfaatnya bisa lebih memberi nilai untuk masyarakat luas, terutama generasi milenial yang sebagai merupakan populasi terbanyak pada saat ini," papar Sri Sultan HB X saat penutupan pameran naskah di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta, Sabtu (6/4/2019).

"Sebagai contoh sastra teater, dapat kita nikmati dari fragmen golek menak yang diadaptasi dari sumber manuskrip serat menak dan serat iskandar tahun 1713, turunan versi Jawa, cerita dari Persia, dan berbahasa melayu ini telah dikembangkan menjadi sastra teater secara kreatif," papar Sultan.

"Swargi Sri Sultan Hamengkubuwono IX bahkan telah mengubahnya menjadi joget golek menak, merupakan bentuk sastra tari dengan memasukkan 16 tipologi gerak silat golek menak. dari jalannya cerita memberi kesan bahwa di zaman itu mataram sudah mengenal budaya budaya global dengan adanya nama-nama putri asal nama persia, cina dan perancis yang di Jawa kan dengan istilah parangakik," imbuhnya.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Sultan menambahkan bahwa kini Museum memiliki fungsi sebagai pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, perkenalan budaya, objek wisata, media pendidikan iptek dan seni, suaka alam dan budaya, cermin sejarah dan kebudayaan serta sarana bertakwa kepada tuhan Yang Maha esa.

"Namun betapa pentingnya fungsi museum tidak akan terwujud jika gagasan museum yang kurang aspiratif, tidak menghibur, serta fungsi edukatif yang kurang tergarap dengan baik," tegas Sultan.

"Untuk itu diperlukan strategi mediasi dan sosialisasi dengan menyesuaikan karakteristik generasi milenial," tandasnya.(yve)



Minggu, 07 Apr 2019, 00:07:22 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 181 View
Ingin Sepatu Awet? Rawat Dengan Cara Ini
Minggu, 07 Apr 2019, 00:07:22 WIB Oleh : Redaktur 152 View
Santri Milenial Belajar Pertanian
Minggu, 07 Apr 2019, 00:07:22 WIB Oleh : Redaktur 165 View
Ulama NU Serukan Pemilu Damai

Tuliskan Komentar