atas1

Persahabatan Indonesia Swedia dalam Selembar Kain Batik

Rabu, 09 Okt 2019 | 21:17:26 WIB, Dilihat 207 Kali - Oleh warjono

SHARE


Persahabatan Indonesia Swedia dalam Selembar Kain Batik Idha Jacinta, Martin Je Cobson dan Livi Laurens berfoto bersama lembaran kain batik pembawa pesan persahabatan Indonesia Swedia. (Warjono/koranbernas.id)

Baca Juga : Festival Hadroh Meriahkan Dies Natalis Polsa


KORANBERNAS.ID—Kain batik, umumnya lebih dilihat sebagai bagian dari busana atau fesyen. Tapi di tangan para penggiat batik, coretan batik di atas lembaran kain, dapat memberikan banyak makna. Tidak terkecuali makna persahabatan.

Inilah yang terlihat dari dua lembar kain karya sejumlah penggiat batik yang tergabung dalam Gerakan Cinta Batik sebagai Mahakarya Indonesia (GCBMI). Batik-batik tersebut, sarat dengan simbol-simbol dan pesan tentang Indonesia dan Swedia.

Di lembaran kain batik itu, terlihat simbol Cendrawasih, kemudian ada gambar Dala Horse yang menjadi simbol dari Swedia. Kemudian tercetak juga warna-warna merah, putih, kuning dan biru, sebagai warna kebangsaan dari dua negara.

“Ya ini kami buat memang untuk membawa pesan persahabatan dari Indonesia dan Swedia. Corak batik ini, juga sedikit memberi pesan-pesan tentang apa yang sudah dilakukan oleh Martin Je Cobson di Indonesia melalui kegiatan-kegiatan corporate social responsibility-nya. Sebagai pemilik perusahaan Super Tech, Martin menunjukkan perhatian dan dukungan besar bagi Indonesia,” kata Idha Jacinta dari GCBMI sekaligus penggagas The Friendship Batik yang dilaunching di JEC, Rabu (9/10/2019).

Menurut Idha, menjadikan batik sebagai pembawa pesan, bukan sekadar karya. Gagasan ini merupakan bagian dari upaya menjadikan mahakarya Indonesia yakni batik, sebagai pembawa pesan yang penuh makna.

“Lewat karya ini, kami juga ingin mengajak dan membangun kesadaran bahwa semuanya bisa selaras. Indonesia yang high touch, bergandeng dengan Swedia yang high tech. Bagaimana Negara kita yang penuh keberagaman dan keunikan, menyatui dengan Swedia yang dikenal sebagai Negara maju dan high tech. Jembatannya adalah karya batik,” kata Idha.

Melalui gagasan seperti inilah, GCBMI kata Idha, ingin menyampaikan tentang banyak hal. Mereka juga ingin menyampakan sesuatu yang hebat tentang Indonesia ke dunia.

“Coba kalau apa yang dilakukan Martin, apa yang kita lakukan diceritakan melalui sosmed, bisa panjang banget. Tapi dengan kain batik, yang merupakan karya seni budaya, cukup selembar. Kita juga ingin, orang asing tidak melihat batik sekadar sebagai fashion, tapi lebih dari itu sebagai karya yang luar biasa. Intagible asset bangsa,” tandas Idha.

Livi Laurens juga dari GCBMI menambahkan, Gerakan Cinta Batik sebagai Mahakarya Indonesia ini, sejak didirikan 3 tahun lalu mengusung visi yang kuat, bagaimana lewat batik bisa membangkitkan kearifan lokal, mendorong semangat nasionalisme rasa kebangsaan dan cinta tanah air, serta mengobarkan jiwa kepemudaan.

Gerakan ini dibangun, sekaligus sebagai bentuk dukungan Jogja sebagai Kota Batik Dunia yang ditetapkan sejak 2014 silam.

“Setahun lalu dideklarasikan world friend of batik atau sahabat batik dunia. Kita senang lewat world friend of batik, harapannya bisa bagaimana kita punya sahabat di seluruh dunia melalui selembar kain batik,” kata Livi.

Marton Je Cobson sendiri, mengaku sangat mengapresiasi gagasan menjadikan batik sebagai pembawa pesan. Martin melihat, batik bercerita merupakan gagasan yang sangat menarik, untuk menyampaikan sesuatu kepada banyak orang. (SM)



Rabu, 09 Okt 2019, 21:17:26 WIB Oleh : W Asmani 144 View
Festival Hadroh Meriahkan Dies Natalis Polsa
Rabu, 09 Okt 2019, 21:17:26 WIB Oleh : Sari Wijaya 388 View
Ini Kesan Tantri Kotak tentang Bantul
Rabu, 09 Okt 2019, 21:17:26 WIB Oleh : Nanang WH 398 View
Proyek Jalan Nasional Cemaskan Pelaku Usaha

Tuliskan Komentar