atas

Penyakit Ini Berbahaya Tapi Pemerintah Terkesan Abai

Jumat, 15 Mar 2019 | 14:23:43 WIB, Dilihat 1830 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Penyakit Ini Berbahaya Tapi Pemerintah Terkesan Abai Konferensi pers Hari Glaukoma Sedunia di Rumah Sakit Mata "Dr YAP", Jumat (15/3/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : BNN Kota Yogyakarta Latih Mantan Pecandu Jadi Peracik Kopi


KORANBERNAS.ID – Glaukoma merupakan penyakit berbahaya karena bisa menyebabkan kebutaan total. Meski dampaknya cukup besar, pemerintah terkesan masih abai dengan permasalahan tersebut.

“Mungkin pemerintah masih fokus pada penyakit menular. Langkah pemerintah sudah bagus, lewat BPJS Kesehatan  mengkover obat dan tindakan operasi. Harapan kami pemerintah bisa lebih peduli. Jika jenis obat yang difasilitasi lebih banyak lagi itu akan lebih baik,” ungkap dr Rastri Paramita Sp M, dokter spesialis mata subdivisi oftalmologi komunitas Rumah Sakit (RS) “Dr YAP” Yogyakarta.

Pada konferensi pers dalam rangka World Glaucoma Week (WGW) 2019, Jumat (15/3/2019) di rumah sakit setempat, dia mengakui kebutaan mata permanen akibat glaukoma kalah populer dibanding penyakit lain, sebut saja katarak.

“Glaukoma butuh pengobatan seumur hidup. Harapannya bisa masuk penyakit kronis sebab penderitanya butuh rehabilitasi. Harapan kami pemerintah juga memperhatikan rehabilitasi,” tambahnya.

Seyogianya pemerintah juga getol melakukan sosialisasi seperti halnya program KB di era 1970-an, yang semula tidak dikenal menjadi terkenal di masyarakat.

“Ini menjadi tugas bersama kami sebagai dokter mata untuk memberikan pengetahuan dan pembelajaran ke masyarakat,” tambahnya.

Selama ini RS “Dr YAP” Yogyakarta sudah gencar melakukan sosialisasi melalui radio, televisi, koran maupun leaflet. Selain itu, rumah sakit ini juga memiliki Puskesmas binaan yaitu Puskesmas Gondokusuman I, Puskesmas Gondokusuman II dan Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta.

Dokter spesialis mata subdivisi glaukoma Dr dr Retno Ekantini Sp M (K) M Kes menambahkan glaukoma disebabkan adanya tekanan bola mata. Ini terjadi karena cairan mata (humor aquos) yang keluar-masuk tidak sesuai sehingga muncul penimbunan dan pengerasan.

“Jika diketahui lebih dini, pengerasan itu bisa diempukkan sehingga tekanannya berkurang. Tugas kita menemukan secara dini. Pemberian obat dilakukan untuk mempertahankan supaya tidak buta,” kata dokter Retno.

Glaukoma bisa terkena siapa saja. Gejalanya sering tidak disadari karena mirip penyakit lain. Itu sebabnya kebanyakan penderita kurang menyadari dan baru diketahul ketika penyakit memasuki stadium lanjut dan terjadi kebutaan total.

Dokter Retno mengimbau masyarakat tidak perlu takut melakukan deteksi dini. Apabila sudah stabil kontrol bisa dilakukan enam bulan sekali.

“Kita harus peduli memberikan kesadaran ke masyarakat terkait glaukoma karena kebutaannya bisa permanen. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” kata dia.

Dokter Erin Arsianti Sp M MSc M P H selaku Ketua Panitia WGW 2019 yang juga dokter spesialis mata subdivisi glaukoma mengakui penyakit ini masih kalah pamor dibanding katarak.

Padahat saat ini glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua di hampir seluruh dunia dan menjadi penyebab kebutaan permanen nomor satu terbesar di dunia.

Glaukoma berbeda dengan katarak. Kebutaan karena glaukoma bersfat permanen atau tidak dapat diperbaiki (irreversible). Bagi para dokter mata, upaya pencegahan dan penanganan kasus glaukoma merupakan tantangan tersendiri.

World Glaucoma Day (WGD) atau Hari Glaukoma Sedunia dideklarasikan pada 6 maret 2008 dan diperingati setiap 12 Maret.

Seluruh negara di dunia diimbau menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang glaukoma, terutama masyarakat yang mempunyai faktor risiko agar melakukan pemeriksaan mata secara teratur.

Sejak 2010 peringatan Hari Glaukoma diselenggarakan selama sepekan. World Glaukoma Week (WGW) atau Pekan Glaukoma Sedunia tahun ini berlangsung 10-16 Maret.

Erin Arsianti menambahkan, RS Mata "Dr YAP” menyelenggarakan kegiatan pelatihan deteksi dini glaukoma yang dikuti oleh paguyuban glaukoma serta kader puskesmas binaan rumah sakit yang kini dipimpin oleh dr Eny Tjahjani Permatasari Sp M M Kes selaku Direktur RS Mata "Dr YAP.

Melalui pelatihan kali ini kader dan paguyuban bisa melakukan deteksi dini glaukoma di wilayah kerja puskesmas binaan. Jika ditemukan peserta menderita glaukoma dan memerlukan pemeriksaan lanjutan, diperiksa di RS Mata "Dr YAP” saat acara puncak WGW, Minggu (24/3/2019).

“Acara puncak terbuka untuk umum, selain ada kegiatan deteksi dini akan ada senam bersama, talkshow edukasi kesehatan mata, stan farmasi untuk edukasi cara ρenggunaan obat, lomba pembuatan video kegiatan WGW dan doorprize menarik,” kata dokter Erin. (sol)



Kamis, 14 Mar 2019, 14:23:43 WIB Oleh : Sholihul Hadi 686 View
BNN Kota Yogyakarta Latih Mantan Pecandu Jadi Peracik Kopi
Kamis, 14 Mar 2019, 14:23:43 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 783 View
Navis, Idol Junior Asal Jogja Buat Album
Kamis, 14 Mar 2019, 14:23:43 WIB Oleh : Arie Giyarto 520 View
Kotagede Dominasi Pemenang Lomba Taman Sayuran

Tuliskan Komentar