atas1

Pengembangan Pangan Lokal Kurangi Gizi Buruk

Jumat, 26 Apr 2019 | 21:01:43 WIB, Dilihat 363 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Pengembangan Pangan Lokal Kurangi Gizi Buruk Pendiri FOI, Hendro Utomo (kanan) bersama Eni Harmayani, Dekan FTP UGM usai penandatangan kerjasama program SADARI di kampus setempat, Jumat (26/4/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id).

Baca Juga : Gunakan Harta Halal untuk Raih Haji Mabrur


KORANBERNAS.ID -- Pengembangan teknologi pangan lokal menjadi sangat penting saat ini. Sebab gaya hidup modern seringkali membuat masyarakat enggan memanfaatkan pangan lokal dan memilih makanan instan atau cepat saji yang tinggi lemak, tinggi kadar gula, dan terkadang mengandung bahan pengawet menjadi jenis makanan yang populer.

"Gaya hidup modern ikut mengubah perilaku makan masyarakat Indonesia, makanan cepat saji lebih banyak dikonsumsi, bahkan di kalangan masyarakat kurang mampu secara ekonomi. Kreativitas olahan pangan lokal dipertaruhkan bila hal ini terus dibiarkan," papar pendiri Foodbank of Indonesia (FOI), Hendro Utomo disela penandatangan kerjasama program Sayap Dari Ibu (SADARI) dan pembukaan rangkaian dies natalis Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM di kampus setempat, Jumat (26/4/2019).

Padahal selama ini Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati berupa pangan lokal yang melimpah dan bernilai gizi tinggi. Seharusnya Indonesia mampu mencukupi gizi anak-anak Indonesia dengan kekayaan pangan lokal yang melimpah. Memanfaatkan bahan makanan lokal dan segar mestinya bisa menjadi strategi utama untuk mencegah serta mengatasi kondisi kelaparan dan kurang gizi.

Menyadari kondisi yang kurang menguntungkan ini, FTP UGM bersama FOI melalui program SADARI menginisiasi suatu langkah kerjasama untuk melakukan pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi pangan di desa Pucungsari sebagai pilot project. SADARI merupakan suatu gerakan edukasi dan aksi untuk membuka akses pangan yang layak terutama bagi anak-anak.

Didukung pula dengan upaya pemberdayaan ekonomi rumahan masyarakat desa dan pertanian. Upaya ini dilakukan untuk membantu mendorong kemajuan teknologi berbasis pangan lokal, dengan menggerakkan kaum perempuan sebagai penjaga ketahanan pangan keluarga.

Kerjasama yang ditandai dengan penandatangan MoU antara FOI dan FTP UGM ini diharapkan dapat mendukung program Indonesia dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s). Beberapa yang disasar dari SDG ini adalah poin keuda, yaitu mengakhiri kelaparan terutama pada anak-anak. Begitu juga pada poin ke-12, yiatu menekan angka makanan yang terbuang sebagai upaya efisiensi sumber daya alam.

"Gerakan bersama untuk membuka akses pangan yang layak ini bertujuan meningkatkan gizi anak sebagai masa depan negara kita. Gerakan ini tentu memerlukan kerjasama antara berbagai pihak.  Diharapkan melalui kerjasama ini kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Ini sejalan dengan hak-hak perlindungan anak, dan tentu saja amanah UUD 45,” tandasnya.

Pelepasan balon dalam rangkaian Dies Natalis FTP UGM dan kerjasama dengan FOI di kampus setempat, Jumat (26/4/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id).

Sementara Eni Harmayani, Dekan FTP UGM mengungkapkan, SDG pada area ini menuntut masyarakat untuk bergerak meraih ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, menggalakkan pertanian berkelanjutan. Selain itu membangun kepedulian masyarakat mengenai kasus kelaparan yang ada di Indonesia. Masyarakat pun diharapkan tergerak untuk saling menolong sesama untuk memudahkan terbukanya akses pangan.

Kontribusi yang lahir dari tengah masyarakat memang sangat dibutuhkan dalam mencegah maupun mengatasi kasus kelaparan. Program ketahanan pangan yang bisa diawali dengan pendampingan dari para ahli, seharusnya mampu mengubah perilaku masyarakat desa agar akses pangan terbuka lebih luas. Termasuk mampu melahirkan kemandirian masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi dalam produksi penggunaan pangan lokal untuk meningkatkan gizi.

Sebab faktanya, setelah lebih dari 70 tahun merdeka, masih terjadi di berbagai daerah kondisi gizi buruk atau kelaparan. Hal ini menunjukkan masih terjadi kesenjangan pangan di Indonesia. Status gizi di Indonesia juga kerap menjadi perhatian banyak pihak. Berdasarkan Riset Kesahatan Dasar (Riskesdas 2018), 1 dari 3 anak indonesia atau sekitar 30.8% nya menderita stunting. Masalah gizi buruk-kurang pada Balita di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masuk dalam kategori sedang (Indikator WHO), artinya permasalah gizi buruk di Indonesia perlu perhatian serius.

"Indonesia sebenarnya kaya dengan bahan pangan lokal. Sayangnya, kekayaan itu belum dikembangkan secara optimal. Padahal, banyak bahan pangan lokal yang tinggi kandungan gizinya saat ini juga menjadi tren pangan dunia,” paparnya.

Ditambahkan CEO Food Lab, Bonnie Susilo, kerjasama para pelaku ekonomi kreatif terus dilakukan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan lokal. Ditargetkan tahun depan akan terkumpul lebih dari 3.000 pelaku ekonomi kreatif.

"Diantaranya para pelaku usaha di bidang teknologi pangan. Jangan sampai kalah dari negara tetangga yang bermain sangat kuat dalam pengembangan teknologi pangan," imbuhnya.(yve)



Jumat, 26 Apr 2019, 21:01:43 WIB Oleh : Arie Giyarto 424 View
Gunakan Harta Halal untuk Raih Haji Mabrur
Jumat, 26 Apr 2019, 21:01:43 WIB Oleh : Surya Mega 348 View
Target Penjualan New Carry PU 100 Unit per Bulan
Jumat, 26 Apr 2019, 21:01:43 WIB Oleh : Surya Mega 559 View
New Carry Pick Up, Mobil Komersial Anti Maling

Tuliskan Komentar