atas1

PBNU Minta Semua Pihak Terima Hasil KPU

Rabu, 22 Mei 2019 | 00:13:03 WIB, Dilihat 358 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


PBNU Minta Semua Pihak Terima Hasil KPU Rais Syuriyah Pengurus Besa Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Masdar Farid Masudi. (istimewa)

Baca Juga : Jangan Sembarangan Menolong, Salah-salah Bisa Meninggal


KORANBERNAS.ID -- Rais Syuriyah Pengurus Besa Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Masdar Farid Masudi meminta semua pihak menerima hasil penghitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pihak mana pun tidak mempunyai cukup alasan untuk menolak hasil kerja KPU.

"Semua tahapan dan proses pemilu 2019 dijalankan dengan memenuhi standar operasional yang berlaku sesuai amanat undang-undang," dalam rilisnya yang dikirim ke koranbernas.id, Selasa (21/05/2019).

Kiai Masdar juga mengapresiasi transparansi dan keterbukaan KPU dan Bawaslu. Kedua lembaga yang mendapatkan mandat dan otoritas undang-undang pemilu ini membuka pintu layanannya selama 24 jam yang berlangsung mulai dari awal pendataan pemilih hingga selesai rekapitulasi suara.

“Profesional, obyektif, teliti, tepat waktu dengan hasil yang sangat meyakinkan publik (khususnya segenap pemilih),” kata Kiai Masdar.

Sementara Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Gus Hasan) mengajak semua pihak untuk menghargai hasil pemilu dan hasil pilpres yang dikeluarkan oleh KPU. Menurutnya, ikhbar KPU terkait hasil Pemilu dan Pilpres 2019 adalah kerja keras yang melibatkan banyak pihak.

“Kita menghargai bahwa hasil pemilu dan pilpres tahun ini adalah merupakan produk bersama DPR sebagai wakil rakyat, dan eksekutif dalam hal ini pemerintah sebagai pelaksana yaitu KPU,” kata Gus Hasan.

Gus Hasan yang juga Pengasuh Pesantren As-Shiddiqiyah ini menambahkan bahwa pada pemilu 2019 tidak ada pihak yang menang dan pihak yang kalah. Pasalnya, pemilu 2019 merupakan amanat konstitusi yang menjadi pilar negara dan berkaitan dengan hajat hidup semua pihak.

“Dengan demikian hasil yang telah ditetapkan hari ini merupakan hasil kerja dari semua pihak yang harus bersama kita apresiasi,” kata Gus Hasan.

Gus Hasan juga menyatakan rasa syukur karena semua tahapan Pemilu 2019 dilalui dengan damai tanpa kericuhan yang berarti. Ia menambahkan bahwa tahapan dan proses mulai dari pendataan pemilih, verifikasi data, pemilihan, penghitungan, hingga rekapitulasi suara, berjalan baik. Menurutnya, pelaksanaan seperti ini menunjukkan kesantunan bangsa Indonesia berdemokrasi.

“Apalagi seluruh tahapannya dapat dilaksanakan dengan damai dan tetap terjaganya persatuan. Semuanya juga dilalui dengan terbuka dan transparan,” paparnya.

Hal senada disampaikan KH Ahmad Muwaffiq atau Gus Muwaffiq yang mengapresiasi kerja-kerja KPU. Menurut kiai yang berambut panjang ini, kerja-kerja KPU mulai dari pendataan pemilih hingga pengumuman KPU terkait Pilpres 2019 sudah memenuhi syarat kerja-kerja profesional.
Gus Muwaffiq yang memiliki pengalaman sebagai sekretaris senat sema kuliah di Yogyakarta dulu menilai bahwa kerja profesional KPU tidak lepas dari seleksi dan rekrutmen petugas KPU dari tingkat bawah hingga tingkat atas.

“Bagus. Mereka orang profesional,” kata Gus Muwaffiq, Selasa (21/5/2019) malam.

Gus Muwaffiq menambahkan bahwa sistem ini dirancang dalam undang-undang pemilu sehingga pihak KPU benar-benar memasukkan orang-orang pilihan sebagai petugasnya. Para petugas KPU dari tingkat pantarlih, TPS, hingga mereka yang duduk di tingkat nasional, adalah mereka yang siap kerja-kerja sesuai undang-undang pemilu.

“Seleksinya ketat. Alhamdulillah, mereka yang duduk sebagai petugas KPU adalah orang-orang yang lolos seleksi,” kata Gus Muwaffiq.

Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat Ajengan Nuh Ad-Dawami menanggapi kinerja KPU. Menurutnya, petugas KPU sudah berjalan sesuai protap yang diamanatkan kepada mereka. Mereka bekerja dengan ketentuan yang berlaku dengan pengawasan langsung dari Bawaslu, relawan, dan saksi-saksi dari kontestan pemilu.

“Tentang kinerja KPU terlihat cukup profesional sesuai dengan ketentuan undang-undang dan aturan yang berlaku,” kata Ajengan Nuh.

Pengasuh pesantren di Kabupaten Garut, Jawa Barat ini, mendoakan para petugas KPU yang tersebar di seluruh Indonesia. Ajengan Nuh mengapresiasi kerja-kerja mereka. Menurut Ajengan Nuh, para petugas KPU dan KPPS di tingkat bawah telah mewakafkan diri mereka untuk mengawal demokrasi di Indonesia, sebagai bentuk fardhu kifayah.

Ia mendoakan para petugas KPU agar mendapatkan ganjaran dari Allah karena jasa mereka dalam mengawal pemilu. Tanpa mereka, suksesi rutin yang menjadi amanat undang-undang pemilu akan mengalami kemacetan. Dan itu artinya, kepemimpinan di Indonesia tidak akan berjalan.
Ajengan Nuh Ad-Dawami mengatakan bahwa petugas KPPS yang wafat dalam menjalankan tugas telah berjihad di jalan Allah karena pemilu sebagai wasilah keberlangsungan negara merupakan sebuah kewajiban baik secara aqli maupun secara syar’i.

“Semoga mereka semua, termasuk yang menerima musibah hingga sakit dan bahkan wafat, mendapat ridha dan berkah Allah,” paparnya.

Secara terpisah KAMMI DIY dalam aksi di Yogyakarta, Selasa (21/5/2019) malam meminta TNI dan Polri menjaga keamanan dan ketertiban Negara. Lembaga negara tersebut diharapkan juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari rakyat. (yve)



Selasa, 21 Mei 2019, 00:13:03 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 558 View
Jangan Sembarangan Menolong, Salah-salah Bisa Meninggal
Selasa, 21 Mei 2019, 00:13:03 WIB Oleh : Redaktur 503 View
Ribuan Orang Ikuti Apel Kebangsaan di Solo
Selasa, 21 Mei 2019, 00:13:03 WIB Oleh : Redaktur 1837 View
Aparat Tidak Boleh Jadi Bagian dari Konflik

Tuliskan Komentar