atas1

Kantong Belanja dari Serat Ketela Ini Mudah Didaur Ulang

Jumat, 12 Jul 2019 | 03:10:35 WIB, Dilihat 576 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Kantong Belanja dari Serat Ketela Ini Mudah Didaur Ulang Kantong belanja ramah lingkungan dari bahan dasar serat  ketela atau singkong. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : ACT Luncurkan Program Global Qurban 2019


KORANBERNAS.ID – Gerakan mengurangi sampah plastik terasa makin menggema. Tak hanya instansi pemerintah, swasta pun tampaknya mulai tergerak melakukannya.

Banyak pihak berharap pengurangan penggunaan plastik menjadi gaya hidup. Ini karena pencemaran lingkungan akibat sampah plastik sudah berada di ambang sangat meresahkan. Ditambah lagi, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat pemakaian plastik di dunia tergolong tinggi. Padahal sampah plastik sulit terurai, perlu waktu paling tidak 500 tahun.

Berdasarkan data, Indonesia dengan penduduk lebih dari 250 juta menempati peringkat kedua penghasil sampah plastik. Angkanya pun fantastis, mencapai 187,2 juta ton per tahun. Dari total jumlah tersebut hanya 5 persennya mampu didaur ulang.

Selebihnya, sampah plastik menjadi pemicu malapetaka. Sebut saja banjir, bukan hanya disebabkan penggundulan hutan tetapi juga karena sampah plastik menyumbat pintu-pintu air maupun menghambat arus air.

Seperti diketahui, plastik-plastik yang terbawa arus air sungai bisa menggelembung dan secara otomatis makin kuat menahan aliran air.

Bukan rahasia lagi hampir semua sungai saat ini terdapat sampah plastik. Selalu saja ada plastik mengambang di permukaan air. Kondisi itu tidak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan hidup.

Kantong alternatif

Sebagai upaya mencegah kerusakan lingkungan serta menekan penggunaan plastik, kini muncul alternatif kantong belanja ramah lingkungan.

Sejak sekitar dua tahun silam, kantong belanja itu ditemukan. Bahannya terbuat dari serat tepung ketela atau singkong  dan turunan minyak nabati.

Pabriknya berada di Tangerang Banten. Berbagai toko sudah memanfaatkannya. Sayang, harganya lebih mahal dibanding plastik biasa sehingga belum terjangkau secara luas.

Kantong belanja ramah lingkungan ini beredar dengan tulisan mencolok No Plastik, Please. Teksturnya lembut serta mempunyai kemampuan menahan beban tidak kalah dari plastik konvensional.

"Saya belanja di sebuah toko roti di Bogor. Bagus dan kuat kok. Tapi harganya Rp 800," kata Ari Wuryono.

Kepada koranbernas.id, Rabu (10/7/2019) malam di rumahnya, pria lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM itu menunjukkan kantong belanja ramah lingkungan.

Plastik jenis ini sangat mudah didaur ulang dan mencair bila dimasukkan gelas berisi air panas 180 derajat Celcius.

Sebagai perbandingan, kata dia, kantong plastik biasa atau lebih dikenal dengan tas kresek yang disediakan minimarket maupun supermarket harganya Rp 200.

“Jadi memang ada banyak selisih harga. Apalagi di pasar-pasar tradisional bisa diperoleh gratis saat berbelanja,” ungkap dia.

Selain di Jakarta dan sekitarnya, kantong belanja ramah lingkungan juga sudah ada  di DIY. Pusatnya di Mlati Sleman. Namun belum diketahui apakah plastik jenis itu sudah beredar luas di toko-toko di DIY.

Edukasi

Sebenarnya edukasi untuk mengurangi dampak buruk sampah plastik juga sudah banyak dilakukan bahkan mulai dari tingkat RW (Rukun Warga).

Begitu pula, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di DIY sudah mengedukasi masyarakat untuk menghentikan penggunaan kantong plastik, paling tidak mengurangi pemakaian plastik.

Instansi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup pun sudah melakukan hal serupa, bahkan sejak lama melibatkan PKK untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk.

Paling tidak pupuk itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan sendiri. Namun tampaknya hanya sebagian kecil saja yang tertarik melakukannya, sehingga masalah sampah diselesaikan di rumah masih jauh dari kenyataan.

Saat pergi belanja, warga mestinya membawa tas sendiri sehingga tak perlu menggunakan tas kresek.

"Kayaknya masih malas membawa. Karena toko-toko menyediakan dengan harga murah,” kata Titisari.

Kepada koranbernas.id, ibu rumah tangga ini menyatakan, selagi pedagang di pasar-pasar tradisional memberikan plastik gratis maka secara akumulasi belum mampu untuk mengurangi produksi sampah plastik. (sol)



Jumat, 12 Jul 2019, 03:10:35 WIB Oleh : Sholihul Hadi 755 View
ACT Luncurkan Program Global Qurban 2019
Rabu, 10 Jul 2019, 03:10:35 WIB Oleh : Arie Giyarto 2502 View
Rute Gerilya Jenderal Soedirman Sejauh 1.009 Kilometer
Rabu, 10 Jul 2019, 03:10:35 WIB Oleh : Redaktur 1039 View
Satgas Teritorial Berangkat ke Maluku

Tuliskan Komentar