atas1

Beatbox Menyengat Panggung DParagon Milenial Festival

Selasa, 05 Feb 2019 | 18:06:16 WIB, Dilihat 900 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Beatbox Menyengat Panggung DParagon Milenial Festival Kemeriahan acara D'Paragon Milenial Festival di Jogja City Mall, Selasa (5/2/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Jogja Kembali Kirim Bantuan ke Banten


KORANBERNAS.IDSound system berkekuatan ribuan watt berdentum keras di halaman Jogja City Mall (JCM) Jalan Magelang Yogyakarta, Selasa (5/2/2019) sore.

Pengunjung seperti enggan beranjak dari tempat duduk begitu di panggung utama tampil sejumlah anak-anak muda dengan Beatbox-nya yang menyengat.

Dentuman bas, dram dan beragam instrumen lainnya yang dihasilkan dari suara mulut itu spontan memancing pengunjung untuk menggerak-gerakkan tubuhnya.

Inilah kemeriahan D'Paragon Milenial Festival yang digelar D’Paragon, Jaringan Guest House dan Kost Ekslusif Terbesar di Indonesia.

Tak hanya musik, festival ini juga dimeriahkan Dance K Pop, Stand Up Perform, Guyon Waton, Talkshow serta penyerahan hadiah vlog competition.

Sedangkan malam harinya menandai puncak acara dilakukan launching aplikasi D’Paragon dilanjutkan tausiyah milenial oleh Gus Miftah.

CEO sekaligus Owner D’Paragon, Muhammad Syarif Hidayat, kepada wartawan di sela-sela acara menyampaikan festival ini dipersembahkan untuk publik khususnya para pelanggan D’Paragon.

“Basik kita selain properti adalah hospitality services, jadi kita punya kewajiban ikut memasarkan pariwisata Indonesia,” ungkapnya.

Muhammad Syarif Hidayat yang juga santri Gus Miftah dari Ponpes Ora Aji dan populer disapa Jhon Dayat ini lebih lanjut menjelaskan, lomba vlog kali ini temanya Explore D’paragon dan Explore pariwisata Indonesia.

Lomba ini sangat tepat mengingat di tahun politik sekarang ini sering muncul fenomena para netizen menggunakan medsos secara tidak bertanggung jawab.

Mereka ingin mencari eksistensi dengan melakukan hal-hal yang macam-macam bahkan melanggar hukum.

Lomba vlog ini juga menjadi salah satu media sekaligus wadah bagi kaum milienal untuk bermedsos secara positif. “Untuk eksistensi diri, ini lho ada media yang baik bahkan mereka bisa mengukir prestasi di sini,” tambahnya.

Adapun pemilihan tema pariwisata dilandasi alasan sangat besarnya potensi pariwisata Indonesia namun pemasarannya  masih sangat kurang.

“Selaku pelaku bisnis hospitality services, kami merasa ikut bertanggung jawab harus ikut memasarkan potensi wisata di Indonesia,” kata dia.

Menjawab pertanyaan seperti apa hasil kreasi mereka, Jhon Dayat mengatakan dirinya cukup kaget. Berdasarkan hasil karya vlog yang masuk ke panitia, semuanya berkualitas dan dibuat tidak sembarangan.

“Ternyata anak-anak generasi milenial Indonesia sangat maksimal ketika ingin berkarya. Mereka tidak hanya menggunakan kamera handphone bahkan menggunakan kamera profesional. Itu yang saya lihat karena tim juri kita juga dari kalangan profesional sehingga bisa dilihat gambarnya berasal dari kamera apa,” terangnya.

Muhammad Syarif Hidayat diwawancarai wartawan di sela-sela acara D'Paragon Milenial Festival. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Soal konten, menurut Jhon Dayat, rata-rata sangat menarik. “Terkadang ide-ide mereka tidak bisa kita tebak. Muncul ide-ide gila dan saya pikir generasi milenial kita patut kita arahkan,” tandasnya.

Dia berharap para pelaku usaha yang lain juga bisa memunculkan media-media yang memberi ruang representasi diri kaum milenial. “Supaya anak muda Indonesia lebih maju dan berprestasi mereka butuh ruang ekspresi,” tambahnya.

Dengan begitu mereka bisa terhindar dari kasus-kasus yang akhir-akhir marak seperti hoak serta terhindar dari penggunaan medsos berisi foto-foto yang tidak jelas.

D’Paragon Vlog Competition yang dibuka sejak September 2018 semula panitia hanya pasang target 50 peserta. Di luar dugaan masuk 78 karya.

“Yang ambil formulir 123 dari seluruh Indonesia, dari Malang,  Surabaya dan kota-kota lain. Yang menarik, warga negara Rusia ikut lomba vlog ini. Penghargaan yang kita berikan berupa piagam, sertiikat dan hadiah uang tunai total Rp 32 juta untuk mereka yang berprestasi,” kata Jhon Dayat.

Jhon Dayat mengawali bisnisnya dari Sleman, terinspirasi ketika tempat kos yang dimilikinya dibeli oleh seorang perwira tinggi TNI, kini sudah almarhum.

Dari situ, Jhon Dayat memilih mengembangkan bisnisnya secara total. Awalnya saat mengikuti pameran properti di Jakarta dia sempat diledek karena memilih bisnis kos-kosan yang identik sebagai pekerjaan orang-orang pensiunan.

Denga modal tidak pernah menyerah dan berani melihat ke luar, ternyata bisnis lokal ini berkembang pesat sehingga menarik perhatian banyak pihak.

Pada 2018, perusahan Stern Resources Group bersama Royal D’paragon Land sepakat mendirikan perusahaan bersama dengan nama Royal D’paragon International LLC.

Royal D’paragon International berkantor di New York menyalurkan dana investasi dari Amerika Serikat ke PT  Royal D’Paragon Land.

Menurut Jhon Dayat, salah satu kunci sukses bisnis itu adalah beri layanan yang terbaik tetapi bukan berarti memberi kebebasan.

“Ketika butuh laundry sudah ada. Mau mengeser mobil sudah ada petugas yang melakukan,” ujarnya mencontohkan.

Lebih jauh soal pariwisata Indonesia, dia menegaskan, dari pengalamannya berkunjung ke sejumlah negara di Eropa, Yunani, Brasil, Singapura, mereka yang ditemuinya rata-rata kaget begitu mengetahui potensi wisata Indonesia.

“Saya tunjukkan foto-foto daerah NTT, NTB, foto Pinisi, foto saat saya memberi makan ikan hiu Karimun Jawa, mereka kaget kok ada yang seperti ini di Indonesia. Mereka tahunya hanya Bali,” ungkapnya.

Artinya, potensi pariwisata Indonesia tidak kalah hanya belum mengetahui cara menjualnya ke turis asing. (sol)



Selasa, 05 Feb 2019, 18:06:16 WIB Oleh : Sholihul Hadi 516 View
Jogja Kembali Kirim Bantuan ke Banten
Senin, 04 Feb 2019, 18:06:16 WIB Oleh : Endri Yarsana 519 View
Laporkan Jika Ada Jual Beli Jabatan
Senin, 04 Feb 2019, 18:06:16 WIB Oleh : Sholihul Hadi 606 View
DPRD DIY Dorong Pemda Tingkatkan Kesejahteraan Guru

Tuliskan Komentar