atas

Air Hujan Bukan Penyebab Bencana

Rabu, 27 Feb 2019 | 07:24:48 WIB, Dilihat 414 Kali - Oleh V. Kirjito, Pr. , Rohaniwan, Pemerhati Budaya Air Hujan.

SHARE


Air Hujan Bukan Penyebab Bencana Rio, anak desa Bunder, Klaten, menunjukkan kepada Ibu Sinta, TDS air Hujan yang jatuh di Bentara Jakarta hanya 15 mg/L. Jauh di bawah semua air yang diambil dari dalam tanah. (DOKUMENTASI BBJ)

Baca Juga : Bukit Teletabis Panen Raya Jagung Hibrida


MENURUT informasi dari Badan Meteorogi, Klimatologi dan Geofisika, hujan diperkirakan mencapai puncak pada bulan Januari–Februari 2019 ini. Pesan kewaspadaan, itulah ritual BMKG. Benar juga. Banjir dan tanah longsor sudah terjadi, mulai dari Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sulawesi Selatan. Kita hanya bisa melambungkan doa kepada Tuhan, memohon berkah untuk korban kedahsyatan alam ini. 

Kalau dicermati betul, sebenarnya bukan air Hujan yang menimbulkan dampak kebencanaan, melainkan keseluruhan volume air sedemikian banyak yang dicurahkan dari langit dalam waktu beberapa jam hingga beberapa hari saja. Istilah Jawanya, disokke,disuntakkan semuanya. Andai hujan rintik-rintik, gerimis saja, tidak akan menimbulkan bencana. Malah membuat udara sejuk dan segar. Rumputan, pepohonan, tanaman hias, tanaman budidaya petani, tumbuh subur. Wabah penyakit juga tidak akan timbul. Sebab, air hujan itu tidak sama dengan air di sungai, di danau, di laut, air sumur, bahkan air dalam kemasan. Air curahan langit itu hasil sulingan alam. Udara atau lebih tinggi lagi kita sebut langit, tidak mungkin menjadi tempat manusia membuang sampah. Kalaupun ada, hanya yang sangat ringan, seperti asap pembakaran kendaraan bermotor, pabrik-pabrik dan pesawat terbang, hingga kebakaran hutan. Sampah plastik bekas botol air minum kemasan, tas kresek, bekas bungkus dlsb, tidak mungkin kita buang ke udara. Demikian pula atap rumah, bukan tempat sampah. Air Hujan, sebenarnya air bersih, lebih bersih daripada air tanah. 

Uji Laborat

Untuk mengetahui dengan pasti, Simon Widodo, misalnya, mengujikan air hujan yang jatuh di sekitar Pejompongan, Jakarta. Berdasar hasil laboratorium PAM Jaya, dari semua item yang diperiksa menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 41 Tahun 1990, hanya no 7, yaitu derajat keasaman, PH yang kurang 0,1. Seharusnya, 6,5 – 9.0. Lain-lainnya, tidak ada yang melampaui standard maksimal. Cermatilah hasil tes lab berikut ini :

Air TDS Rendah

Dari pengalaman banyak penggemar meneliti sendiri air hujan, ada satu item yang alat ukurnya mudah diperoleh dengan harga terjangkau, yaitu no.5 Zat Padat Terlarut (Total Dissolved Solid). Standar maksimal 1500 mg/L (miligram per liter), ari Hujan Pejompongan hanya 5.7 mg/L. Catatan yang penting kita ketahui, Permenkes 1990 itu sudah diperbarui dengan Permenkes 492 Tahun 2010. Ada perubahan standard maksimal, yaitu 500 mg/L. Sementara, saya berulang mengukur air dengan merk Aqua Pro Injection, air murni yang dijual di apotik, TDSnya 000 mg/L. Air dengan TDS rendah, di bawah 50 mg/L air yang bersih dan aman dari kemungkinan terlarut logam berat, dan yang disukai bakteri yang bisa menyebabkan sakit perut. 

Mengapa air hujan selalu dipandang sebagai air kotor? Air hujan yang sedemikian jernih dan murni itu menjadi tertuduh penyebab bencana hidrometeorologi? Lalu, secepatnya harus dibuang kembali menuju ke laut. Meresap ke tanah pun sudah dihambat dengan bangunan. Mengapa budaya kita selalu negatif terhadap air Hujan?

Pesan Ibu Sinta

Ibu Sinta Nuriyah Wahid, istri mendiang Presiden Adurrachmaan Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, memberika pesan yang sangat mendalam dan relevan sekali, ketika membuka Pameran Budaya Air Hujan di Bentara Budaya Jakarta, empat  tahun yang lalu, tepatnya 31 Maret 2015. Maka, saya tulis utuh isi padato itu sebagai berikut:

 

Assalammualaikum Wr. Wb,

Salam sejahtera buat kita semua.

Saya sangat merasa berbahagia karena pada malam hari ini saya bisa hadir di sini untuk menyaksikan suatu anugerah Tuhan yang tiada terhingga buat umat manusia yaitu pemanfaatan Air Hujan. Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri bahwa manusia itu sangat membutuhkan air dalam hidupnya. Manusia butuh minum, butuh memasak makanan, butuh mandi, butuh mencuci juga dengan air, tidak hanya dengan rinso, juga butuh mengairi sawah ladangnya atau kebutuhan lain yang menggunakan air.

Pada garis besarnya, sebetulnya di Indonesia ini, tidak begitu mengalami masalah dengan air. Walaupun di sana-sini masih ada juga yang kekurangan air dan ada juga yang kelebihan air. Di daerah pantura Jawa Timur seperti Lamongan, ada ungkapan yang mengatakan, “kalau hujan gak bisa jongkok kalau kemarau gak bisa cebok.” Itu karena ada saat kelebihan dan ada saat kekurangan air.

Bahkan ada banyak daerah yang juga sangat kekurangan air, sehingga menggunakan air comberan untuk minum, untuk masak, mandi. Kadang di daerah pegunungan, ibu-ibu harus berjalan jauh berpuluh-puluh kilometer menggendong air dari sumbernya.

Tapi, tiba-tiba saja, saya seperti menemukan harta karun yang tiada terhingga nilainya, ketika kemarin Romo Kirjito atau Lik Kir…. ya Romo (berhenti sejenak), datang ke rumah saya dan membawa kabar gembira bahwa ada jenis air yang bisa memberikan manfaat yang luar biasa kepada umat manusia. Tidak hanya memenuhi ke-butuhan dasar manusia terhadap air tetapi juga bisa juga menyembuhkan beberapa macam penyakit. Air itu adalah Air Hujan… (tepuk tangan meriah)

Dengan sentuhan keilmuan, ilmu pengetahuan dan ditambah dengan sentuhan hati nurani yang bersih, yang suci untuk membela umat manusia dan kemanusiaan, maka terciptalah apa yang sekarang kita saksikan dan akan kita launching, yaitu pemanfaatan Air Hujan buat umat manusia di muka bumi ini. Ini sebetulnya merupakan anugerah. Saya langsung ingat pada ayat-ayat suci dalam Alquran, yang mengajarkan bahwa:

.. sekiranya engkau berfikir, sekiranya engkau mau menggunakan akalmu...”

Pikiran saya langsung ke arah itu. Ooo….barangkali ini yang dimaksud Tuhan. Bahwa kalau kita mau berpikir, mau menggunakan akal, maka kita akan bisa menggunakan barang-barang yang selama ini tidak kita perhatikan, kita sia-siakan dan kita anggap tidak berguna, isya allah, semuanya itu akan menjadi sesuatu yang amat bermanfaat bagi kita,.... (tepuk tangan menggema).

Oleh karena itu, semuanya ini kita anggap sebagai anugerah dari Tuhan yang mahakuasa yang sangat besar artinya buat manusia. Marilah kita apresiasi, kita hargai, kita beri penghargaan yang setingi-tingginya, kepada semua yang telah menemukan ilmu untuk dinikmati, digunakan, dan untuk menolong kepada sesama umat manusia sehingga semua akan mendapatkan kesejahteraan kemakmuran dan kesehatan yang prima dari ASW.

Akhirulkalam,

Assalammualaikum Wr. Wb …

(tepuk tangan hadirin menggema panjang)

 

V. Kirjito

Pemerhati Budaya Air Hujan

 

 

 


 

 



Rabu, 27 Feb 2019, 07:24:48 WIB Oleh : Redaktur 218 View
Bukit Teletabis Panen Raya Jagung Hibrida
Rabu, 27 Feb 2019, 07:24:48 WIB Oleh : Sari Wijaya 241 View
Purworejo Studi Tiru ke Pajangan
Rabu, 27 Feb 2019, 07:24:48 WIB Oleh : Nila Jalasutra 2627 View
Harus Profesional, Guru Ikut Sertifikasi

Tuliskan Komentar